Soetomo (Bung Tomo)
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Bung Tomo, bernama asli Sutomo, lahir di Kampung Blauran, Surabaya, sebagai anak sulung dari enam bersaudara dari pasangan Kartawan Tjiptowidjojo dan Subastita. Ayahnya merupakan priyayi menengah yang pernah bekerja di berbagai instansi pemerintah dan swasta, sedangkan ibunya berdarah campuran Jawa, Sunda, dan Madura.
Masa kecil Sutomo diwarnai oleh semangat belajar yang tinggi meskipun harus menghadapi kesulitan ekonomi akibat Depresi Besar. Pada usia 12 tahun, ia terpaksa berhenti dari sekolah MULO, namun tetap melanjutkan pendidikan melalui korespondensi hingga tingkat HBS.
Sutomo kemudian aktif dalam Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan menjadi salah satu dari sedikit orang Indonesia yang meraih peringkat Pramuka Garuda pada usia 17 tahun. Pengalaman di kepanduan membentuk disiplin, rasa tanggung jawab, dan semangat kebangsaan yang kelak membimbing langkah perjuangannya.
Selain itu, ia menekuni dunia kewartawanan dengan menulis di media seperti Soeara Oemoem, Pembela Rakyat, dan Poestaka Timoer. Ia juga sempat menjadi Pemimpin Redaksi Kantor Berita Antara pada tahun 1945 — bukti keaktifannya dalam menyuarakan perjuangan melalui media.
Karier dan Perjuangan
Pada masa pendudukan Jepang, Bung Tomo bergabung dalam organisasi Gerakan Rakyat Baru dan menjadi pengurus Pemuda Republik Indonesia di Surabaya. Dari sinilah ia mulai dikenal karena pidato-pidato radio yang membakar semangat rakyat.
Perannya mencapai puncak pada Pertempuran Surabaya, 10 November 1945, ketika pidatonya melalui Radio Pemberontakan menggerakkan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan melawan pasukan Inggris yang datang bersama NICA. Suaranya yang lantang menjadi simbol keberanian rakyat Indonesia untuk tidak tunduk pada penjajahan.
Sebagai pemimpin Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), ia mengorganisasi pasukan rakyat melawan kekuatan kolonial. Walau secara militer pertempuran itu berakhir dengan kekalahan, namun semangat juang rakyat Surabaya menjadi lambang perlawanan nasional terhadap imperialisme dan melahirkan momentum bersejarah yang diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional setiap 10 November.
Karier Politik dan Aktivisme
Setelah perang, Bung Tomo tetap aktif dalam pemerintahan dan politik nasional. Ia menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran serta Menteri Sosial Ad Interim dalam Kabinet Burhanuddin Harahap (1955–1956). Ia juga menjadi anggota Konstituante mewakili Partai Rakyat Indonesia hingga lembaga itu dibubarkan oleh Presiden Sukarno melalui Dekrit Presiden 1959, yang ia tolak dengan tegas.
Kritiknya terhadap berbagai kebijakan politik membuat hubungannya dengan pemerintah tidak selalu harmonis. Pada masa Orde Baru, ia sempat mendukung pemerintahan Soeharto, tetapi kemudian mengkritik sejumlah proyek besar, termasuk Taman Mini Indonesia Indah, yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Akibat sikap vokalnya, pada 11 April 1978 ia ditangkap dan dipenjara selama satu tahun dengan tuduhan subversif.
Kehidupan Akhir dan Wafat
Setelah bebas dari tahanan, Bung Tomo memilih untuk hidup tenang bersama keluarga. Ia lebih banyak menekuni kehidupan beragama dan mendidik anak-anaknya.
Pada 7 Oktober 1981, Bung Tomo wafat di Padang Arafah, Arab Saudi, saat menunaikan ibadah haji. Sesuai wasiatnya, jenazah beliau dibawa pulang dan dimakamkan di TPU Ngagel, Surabaya, bukan di Taman Makam Pahlawan, sebagai wujud kesederhanaan dan kedekatannya dengan rakyat.
Penghargaan dan Gelar Pahlawan Nasional
Sebagai pengakuan atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam perjuangan kemerdekaan dan pembentukan semangat nasional, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Bung Tomo pada Hari Pahlawan, 10 November 2008, di Istana Merdeka. Penghargaan tersebut diterima oleh istrinya, Ny. Sulistina Sutomo.
Kehidupan Pribadi
Bung Tomo menikah dengan Sulistina, seorang perawat PMI yang juga aktif dalam perjuangan kemerdekaan, pada 19 Juni 1947 di Malang. Mereka dikaruniai empat orang anak:
-
Tin “Titing” Sulistami (lahir 1948)
-
Bambang Sulistomo (lahir 1950)
-
Sri Sulistami (lahir 1951)
-
Ratna Sulistami (lahir 1958)
Warisan dan Nilai Keteladanan
Bung Tomo dikenang sebagai orator ulung, nasionalis sejati, dan simbol keberanian moral rakyat Surabaya. Suaranya yang menggema melalui radio menjadi penanda bahwa kemerdekaan dipertahankan bukan hanya dengan senjata, tetapi juga dengan keyakinan, semangat, dan keberanian untuk membela kebenaran.
Ia mengajarkan bahwa keteladanan seorang pahlawan terletak pada keberaniannya menegakkan nilai-nilai kemanusiaan, kejujuran, dan cinta tanah air.
Warisan semangat Bung Tomo tetap hidup, menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus bergerak dan melanjutkan perjuangan demi cita-cita bangsa yang merdeka, bersatu, dan berdaulat.
Nama Lengkap: Sutomo
Nama Populer: Bung Tomo
Tempat, Tanggal Lahir: Surabaya, 3 Oktober 1920
Tempat, Tanggal Wafat: Padang Arafah, Arab Saudi, 7 Oktober 1981
Dimakamkan di: TPU Ngagel, Surabaya
Gelar Kehormatan: Pahlawan Nasional (SK Presiden No. 041/TK/Tahun 2008)
Video:
Pidato Asli Bung Tomo yang Menggelegar Pada 10 November 1945, Kobarkan Semangat Rakyat!
https://www.youtube.com/watch?v=HelUWggFltc&t=196s
Galeri






