Menu
PAHLAWAN NASIONAL

Sultan Thaha Syaifuddin

Berdasarkan: Keppres No. 079/TK/TH. 1977, 24 Oktober 1977

Setelah dinobatkan sebagai Sultan Jambi pada tahun 1855, Thaha Syaifuddin menegaskan bahwa tidak lagi mengakui perjanjian yang pernah dibuat oleh sultan terdahulu serta tidak akan membuat perjanjian baru. Pemerintah Belanda mengancam akan menangkap dan mengasingkannya, tetapi Sultan Thaha tidak sedikitpun gentar, bahkan menyiapkan pasukannya untuk menyerang Belanda. Pemerintah Belanda mengirim Residen Palembang dan Asistennya ke Jambi untuk mengadakan perjanjian baru dengan sultan, namun upaya tersebut gagal. Belanda mengirim pasukan ke Muara Kompeh di bawah kekuatan 30 buah kapal perang dan tiba di Jambi tanggal 25 September 1858.

Sultan Thaha memiliki kekuatan yang terdiri dari 30 buah kapal perang yang disiapkan di Muara Tembesi, sedangkan Istana Sultan yang disebut “Tanah Pilihan” dikosongkan. Sultan bersama keluarganya menyingkir ke Muara Tembesi. Dalam pertempuran itu, tiga orang panglima Jambi gugur dan digantikan oleh Raden Mat Tahir. Tanggal 2 Maret 1859, Belanda menobatkan sultan baru, yaitu Panembahan Prabu, paman Sultan Thaha dengan gelar Ratu Akhmad Nazarudin untuk menandatangani perjanjian baru yang isinya sangat merugikan Kerajaan Jambi.

Sultan Thaha tidak mengakui perjanjian maupun pengangkatan Sultan Nazarudin. Pendirian ini didukung oleh rakyatnya, karena Sultan Thaha memiliki pusaka Jambi turun-temurun “Si Ginjal”. Untuk meningkatkan perjuangannya, Sultan Thaha bersama Pangeran Tumenggung Mangkunegara dari Bangka membentuk pasukan Sabilillah dengan wilayah komando dibagi dua, yaitu Sultan Thaha dan Pangeran Diponegero memimpin daerah Muara Tembesi sampai Padang, dan Tumenggung Mangkunegara bersama Haji Umar bin Pangeran M. Yasin di daerah Muara Tembesi sampai Kerinci. Pertempuran demi pertempuran melawan Belanda terus dilakukan Sultan Thaha.

Usaha Belanda dengan berbagai cara telah dilakukan, termasuk penelitian Snouck Hurgronje, tetapi hasilnya tetap nihil. Allah SWT memanggil Sultan Thaha ke haribaan-Nya pada tanggal 26 April 1904 dalam usia lanjut, yakni 88 tahun.

Nilai Kepribadian Luhur yang Dimiliki

Sampai wafatnya, Belanda tidak berhasil menangkap Sultan Thaha yang licin bagai belut dan memusingkan. Sultan Thaha beberapa kali terancam maut, namun hatinya tak pernah surut seperti ucapannya, “Saya tidak mau berunding dengan Belanda, niscaya hilanglah amal saya 40 hari jika saya melakukannya”. Keyakinan yang pasti dan sangat menyentuh hati.

IKATAN KELUARGA PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA

Meneguhkan Persatuan Bangsa yang Berdaulat, Adil, dan Makmur

WEB TERKAIT

Informasi

Hubungi Kami

Kementerian Sosial, Gedung C, Lantai Dasar
Jl. Salemba Raya No. 28, Jakarta Pusat
IKPNI.com merupakan situs resmi yang diakui oleh Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia. Seluruh konten serta opini dalam situs ini berdasarkan fakta-fakta yang tersedia, namun tidak mewakili pendapat Inspira Mediatama. Konten dalam situs ini sebaiknya tidak dijadikan dasar oleh pembaca dalam mengambil keputusan komersial, hukum, finansial, atau lainnya. Pada artikel yang sifatnya umum, pembaca disarankan mencari pendapat dari profesional sebelum menanggapi dan mengoreksi konten informasi yang dipublikasi jika mungkin tidak sesuai dengan pandangan pembaca. Publisher tidak bertanggung jawab atas kesalahan atau kelalaian yang tayang, bagaimanapun disebabkan. Website ini dibuat untuk IKPNI dengan hak cipta. Kepemilikan merek dagang diakui. Dilarang menyalin, menyimpan, atau memindahkan dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari publisher.
Kilas Sejarah Hari Ini
21 April 1879

Hari Lahir R.A. Kartini

Dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional yang dikenal gigih memperjuangkan emansipasi wanita indonesia kala ia hidup. Karena kegigihannya itulah hari lahirnya kemudian diperingati sebagai hari Kartini untuk menghormati jasa-jasanya pada bangsa Indonesia.

Selengkapnya...
Hari Lahir R.A. Kartini ( 21 April 1879 )
1
"Hallo, Admin. Website IKPNI."
Powered by