Menu
PAHLAWAN NASIONAL

Abdul Kadir Gelar Raden Tumenggung Setia Pahlawan

Berdasarkan: Keppres No. 114/TK/TH. 1999, 13 Oktober 1999

Abdul Kadir putra sulung Oerip dengan Siti Safriyah, sejak remaja sudah dimagangkan sebagai abdi kerajaan Sintang. Abdul Kadir sering bertugas untuk mengamankan kerajaan dan mendamaikan suku-suku Dayak yang sedang bermusuhan.

Tahun 1845 diangkat sebagai Menteri Hulubalang Kerajaan Sintang dan menggantikan ayahnya yang wafat bergelar Raden Tumenggung. Ketaatan dan penghormatan rakyat Melawi yang besar terhadap Raden Tumenggung sangat mengkhawatirkan Belanda karena dianggap membahayakan posisi Belanda dalam upaya menanamkan kekuasaannya. Belanda berusaha menguasai Raden Tumenggung dengan cara memberikan “tanda jasa” berupa uang saat situasi sulit. Namun tidak berhasil merubah sikap anti Belanda pada dirinya. Perlawanan rakyat terus berkobar di wilayah Sintang.

Pada tahun 1866, Panembahan Sintang mengukuhkan gelar kepada Abdul Kadir menjadi Raden Tumenggung Setia Pahlawan dengan Melawi sebagai wilayah pemerintahan dan Nanga Pinoh sebagai ibukotanya.

Tahun 1868, Raden Tumenggung mempersiapkan perang melalui pertemuan di Kerueng dengan para pemimpin Kawasan Melawi, dan keputusannya antara lain perlawanan dilanjutkan yang berkesinambungan setiap ada peluang, setiap waktu dan tempat, merekrut rakyat untuk dilatih dan diikut-sertakan dalam perlawanan, dan membangun system perlawanan sesuai dengan situasi.

Pada tahun 1871, Laskar Perlawanan menyerang Belanda di Selik, pasukan Belanda dihancurkan dan sejumlah serdadu dibinasakan. Tahun 1871 – 1873, untuk mencairkan suasana yang agak membeku dari kegiatan konfrontasi, agar perang makin marak, maka lascar perlawanan melancarkan serangan melalui aksi-aksi terbatas di sekitar benteng-benteng Belanda sambal melaksanakan sabotase. Tahun 1875, pasukan Belanda menyarang ke Pusat Perlawanan di Natai Mangguk Liang. Dalam serangan ini Belanda menangkap Raden Tumenggung Setia Pahlawan dan merampas barang-barang berharga. Tahun 1875, Raden Tumenggung Setia Pahlawan wafat sebagai tahanan Belanda di Benteng Saka dua.

Nilai Kepribadian Luhur yang Dimiliki

Sistem perlawanan yang dikembangkan oleh Setia Pahlawan menjadi model perlawanan rakyat terhadap Belanda di Sintang hinggal tahun 1913. Seorang tokoh yang perilakunya diteladani rakyat merupakan salah satu indikator pemimpin yang berhasil seperti Setia Pahlawan.

IKATAN KELUARGA PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA

Meneguhkan Persatuan Bangsa yang Berdaulat, Adil, dan Makmur

WEB TERKAIT

Informasi

Hubungi Kami

Kementerian Sosial, Gedung C, Lantai Dasar
Jl. Salemba Raya No. 28, Jakarta Pusat
IKPNI.com merupakan situs resmi yang diakui oleh Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia. Seluruh konten serta opini dalam situs ini berdasarkan fakta-fakta yang tersedia, namun tidak mewakili pendapat Inspira Mediatama. Konten dalam situs ini sebaiknya tidak dijadikan dasar oleh pembaca dalam mengambil keputusan komersial, hukum, finansial, atau lainnya. Pada artikel yang sifatnya umum, pembaca disarankan mencari pendapat dari profesional sebelum menanggapi dan mengoreksi konten informasi yang dipublikasi jika mungkin tidak sesuai dengan pandangan pembaca. Publisher tidak bertanggung jawab atas kesalahan atau kelalaian yang tayang, bagaimanapun disebabkan. Website ini dibuat untuk IKPNI dengan hak cipta. Kepemilikan merek dagang diakui. Dilarang menyalin, menyimpan, atau memindahkan dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari publisher.
Kilas Sejarah Hari Ini
1 Desember 1956

Mohammad Hatta mengundurkan diri sebagai Wapres RI

Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia Mohammad Hatta resmi mengundurkan diri dari kursi wakil presiden setelah surat pengunduran dirinya diterima oleh DPR kala itu. Sebelumnya pada 20 Juli 1956 Hatta telah mengirim surat pengunduran diri namun ditolak secara halus oleh DPR....

Selengkapnya...
Mohammad Hatta mengundurkan diri sebagai Wapres RI ( 1 Desember 1956 )
1
"Hallo, Admin. Website IKPNI."
Powered by